MUSEUM SEJARAH JAKARTA
SEJARAH MUSEUM
Museum sejarah Jakarta yang terletak di
Jalan Taman Fatahillah No.1, Jakarta Barat adalah sebuah lembaga museum yang
memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada tahun 1919, dalam rangka 300 tahun
berdirinya Kota Batavia, warga kota khususnya Belanda mulai tertarik dengan
sejarah kota Batavia. Pada tahun 1930 didirikanlah sebuah yayasan yang bernama
Oud Batavia (Batavia Lama) yang bertujuan untuk mengumpulkan segala ihwal
tentang sejarah kota Batavia. Maka pada tahun 1936 Museum Oud Batavia
diresmikan oleh Gubernur Jendral Tjarda van Starkenborgh Stachouwer
(1936-1942). Museum ini dibuka untuk umum pada tahun 1939.
Museum Oud Batavia ini menonjolkan
peninggalan-peninggalan Belanda yang bermukim di Batavia sejak awal abad XVI.
Koleksi tersebut terdiri dari:
1.
Mebel
2.
Perabot
Rumah Tangga
3.
Senjata
4.
Keramik
5.
Peta
6.
Buku-buku
Museum
Oud Batavia ini adalah sebuah lembaga swasta yang berada dibawah naungan
Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Batavia
untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan) yang didirikan pada tahun 1778 yang berjasa
juga dalam mendirikan Museum Nasional.
Pada
masa kemerdekaan, Museum Oud Batavia berubah nama menjadi Museum Djakarta Lama
dibawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan pada tahun 1968 Museum
Djakarta Lama diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Setelah Museum Sejarah
Jakarta diresmikan pada tanggal 30 Maret 1974, maka seluruh koleksi dari Museum
Djakarta Lama dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta dan ditambah dengan koleksi
dari Museum Nasional.
Untuk
meningkatkan kinerja dan penampilannya, sejak tahun 1999 Museum Sejarah Jakarta
bertekad untuk menjadikan Museum ini bukan sekedar tempat untuk merawat dan
memamerkan benda yang berasal dari masa penjajahan, tetapi harus bisa menjadi
tempat bagi semua orang baik bangsa Indonesia maupun bangsa asing, anak-anak
maupun orang dewasa bahkan untuk penyandang cacat untuk menambah pengetahuan
dan pengalaman tentang sejarah kota Jakarta, serta dapat dinikmati sebagai
tempat rekreasi.
Untuk
itu Museum Sejarah Jakarta berusaha menyediakan informasi mengenai perjalanan
panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam
bentuk yang lebih kreatif. Selain itu, sebagai pusat pertemuan budaya dari
berbagai kelompok suku baik dari dalam maupun luar Indonesia dan sejarah kota
Jakarta seutuhnya. Museum Sejarah Jakarta juga selalu berusaha menyelenggarakan
kegiatan yang rekreatif sehingga dapata menarik perhatian pengunjung untuk
mengetahui sejarah kota Jakarta dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya
warisan budaya.
Sumber:
Brosur “Pameran Bersama Museum: Jakarta Tempo Doeloe” (Museum Sejarah Jakarta)
Beberapa sejarah yang dapat kita temui di Museum Sejarah Jakarta:
![]() |
| Pangeran Sungarasa Jayawikarta |
Pangeran
Sungarasa Jayawikarta/ Wijayakrama Adipati Jayakarta III
Putra dari Ratu Bagus Angke dengan Ratu Pembayun Fatimah
( putri Maulana Hasanudin, Sultan Banten 1). Diangkat menjadi Adipati Jayakarta
sekitar tahun 1600. Beliau dikenal juga dengan nama Pangeran Katengahan. Nama
ini diberikan karena beliau berhasil mendamaikan dan menentramkan kekacauan
perang saudara, antara keluarga Sultan Banten. Perang ini dikenal dengan nama
Perang Pailir pada tahun 1604.
![]() |
| Prasasti Ciaruteun |
Prasasti
Ciaruteun
Prasasti ini ditemukan di tepi aliran Ciaruteun, di Kampung Muara,
Ciaruteun Hilir, Cibubulang, Bogor. Penemuan Prasasti ini dilaporkan pada tahun
1863. Pada tahun 1981, Prasasti ini diangkat dan dipindahkan ke tempatnya
sekarang di Kampung Muara. Dipahatkan pada sebongkah batu besar dalam empat baris
tulisan berhuruf palawa dan berbahasa sansekerta. Isinya menyebutkan tentang
sepasang telapak kaki yang seperti telapak kaki Dewa Wisnu, yakni sepasang
telapak kaki yang Mulia Raja Purnawarman, raja yang gagah berani. Dibagian atas
Prasasti ini masih terdapat sebaris prasasti yang lain, yang belum dapat dibaca
dengan jelas, dan gambar sepasang telapak kaki.
![]() |
| Prasasti Kebon Kopi 1 |
Prasasti
Kebon Kopi 1
Prasasti ini terletak di
Kampung Muara Hilir, Cibubulang. Ada gambar besar dua telapak gajah yang
disamakan dengan telapak gajah Airawata (kendaraan Dewa Wisnu).
Tulisan sansekerta:
"Jayawisalasya tarume(ndra)sya ha(st)inah (aira)vatabasya vibhatidam padadvayam"
Artinya: Di sini tampak sepasang tapak kaki... yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma (yang) Agung dalam... dan (?) kejayaan.
![]() |
| Prasasti Batu Tulis |
Prasasti
Batutulis
Prasasti ini ditemukan di Batutulis, Bogor,
dan hingga kini masih berada disana. Prasasti ini berangka tahun 1455 Saka (1533
M), berukuran tinggi 161 cm; lebar 152 cm, dipahatkan pada sebuah batu pipih
berbentuk gunungan dalam sembilan baris tulisan dengan huruf Jawa kuna dan
bahasa Sunda kuna. Pada masa itu Raja Surawisesa berkuasa di Sunda. Beliau pula
ynag melakukan perjanjian dengan Portugal di Kalapa.
Transkripsi:
Semoga selamat. Inilah tanda peringatan
(untuk) Prebu Ratu yang telah mangkat. Dinobatkan beliau dengan nama Prebu Guru
Dewata Prana. Dinobatkan lagi beliau dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji
di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Beliaulah yang membuat parit
(pertahanan) Pakuan. Beliau putra Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di
Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusalarang. Beliaulah
yang membuat monumen (bentuk) bukit, mengeraskan jalan, membuat hutan tutupan,
membuat Sanghiyang Talaga Rena Mahawijaya. Beliaulah itu. Pada tahun Saka panca
pandawa ngemban bumi (1455)
![]() |
| Schepenkast |
Lemari
Buku Besar (Schepenkast)
Lemari sangat besar ini dibuat tahun 1748
untuk Dewan Pengadilan (Raad van Justitie). Karena nilai sejarahnya, pada tahun
1871 Lemari Buku ini diserahkan kepada Bataviaasch Genootschap (Lembaga
Kebudayaan Indonesia) didalam gedung di Medan Merdeka,
sekarang Museum Nasional. Sejak tahun 1970-an Lemari Buku ini termasuk koleksi
Museum Sejarah Jakarta. Lemari Buku ini ukiran kayunya disepuh emas (prada).
Pada bagian atas, sisi sebelah kiri terdapat patung Dewi Keadilan. Pada sisi
sebelah kanan adalah patung Dewi Kebenaran.
![]() |
| Room Screen (Penyekat Ruangan) |
Room Screen (Penyekat Ruangan)
Penyekat ruangan ini pernah digunakan dalam
ruang sidang Dewan Hindia di Benteng (Kasteel) Batavia. Pada bagian atas di
bawah mahkota terdapat enam lambang kota yang membentuk VOC. Pada bagian
tengahnya terdapat lambang kota Batavia (pedang dengan ujungnya menembus daun
salam). Figur pada bagian tengah menggambarkan seorang pria muda memakai baju
zirah, kakinya agak pendek. Dia membawa perisai dengan hiasan kepala Medusa.
![]() |
| Sketsel |
Sketsel
Ukiran perempuan dibagian tengah Dewi
Minerva dari mitologi Romawi (yang sama dengan Dewi Perawan Athena di mitologi
Yunani), yang memakai topi baja yang dihias dengan bulu burung dan dikelilingi
oleh meriam dan bendera
Masih banyak sejarah-sejarah lainnya yang dapat kita temukan di Museum Sejarah Jakarta yang pastinya dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan kita. Sekiranya ada waktu senggang, kunjungilah museum ini baik bersama teman atau pun keluarga.




























