Minggu, 10 April 2016

MUSEUM SEJARAH JAKARTA




MUSEUM SEJARAH JAKARTA

SEJARAH MUSEUM
            Museum sejarah Jakarta yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No.1, Jakarta Barat adalah sebuah lembaga museum yang memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada tahun 1919, dalam rangka 300 tahun berdirinya Kota Batavia, warga kota khususnya Belanda mulai tertarik dengan sejarah kota Batavia. Pada tahun 1930 didirikanlah sebuah yayasan yang bernama Oud Batavia (Batavia Lama) yang bertujuan untuk mengumpulkan segala ihwal tentang sejarah kota Batavia. Maka pada tahun 1936 Museum Oud Batavia diresmikan oleh Gubernur Jendral Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (1936-1942). Museum ini dibuka untuk umum pada tahun 1939.
            Museum Oud Batavia ini menonjolkan peninggalan-peninggalan Belanda yang bermukim di Batavia sejak awal abad XVI. Koleksi tersebut terdiri dari:  
1.     Mebel
2.     Perabot Rumah Tangga
3.     Senjata
4.     Keramik
5.     Peta
6.     Buku-buku
Museum Oud Batavia ini adalah sebuah lembaga swasta yang berada dibawah naungan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan) yang didirikan pada tahun 1778 yang berjasa juga dalam mendirikan Museum Nasional.
Pada masa kemerdekaan, Museum Oud Batavia berubah nama menjadi Museum Djakarta Lama dibawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan pada tahun 1968 Museum Djakarta Lama diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Setelah Museum Sejarah Jakarta diresmikan pada tanggal 30 Maret 1974, maka seluruh koleksi dari Museum Djakarta Lama dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta dan ditambah dengan koleksi dari Museum Nasional.
Untuk meningkatkan kinerja dan penampilannya, sejak tahun 1999 Museum Sejarah Jakarta bertekad untuk menjadikan Museum ini bukan sekedar tempat untuk merawat dan memamerkan benda yang berasal dari masa penjajahan, tetapi harus bisa menjadi tempat bagi semua orang baik bangsa Indonesia maupun bangsa asing, anak-anak maupun orang dewasa bahkan untuk penyandang cacat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman tentang sejarah kota Jakarta, serta dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi.
Untuk itu Museum Sejarah Jakarta berusaha menyediakan informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih kreatif. Selain itu, sebagai pusat pertemuan budaya dari berbagai kelompok suku baik dari dalam maupun luar Indonesia dan sejarah kota Jakarta seutuhnya. Museum Sejarah Jakarta juga selalu berusaha menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif sehingga dapata menarik perhatian pengunjung untuk mengetahui sejarah kota Jakarta dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya warisan budaya.
Sumber: Brosur “Pameran Bersama Museum: Jakarta Tempo Doeloe” (Museum Sejarah Jakarta)

Beberapa sejarah yang dapat kita temui di Museum Sejarah Jakarta: 

Pangeran Sungarasa Jayawikarta
  
Pangeran Sungarasa Jayawikarta/ Wijayakrama Adipati Jayakarta III
Putra dari Ratu Bagus Angke dengan Ratu Pembayun Fatimah ( putri Maulana Hasanudin, Sultan Banten 1). Diangkat menjadi Adipati Jayakarta sekitar tahun 1600. Beliau dikenal juga dengan nama Pangeran Katengahan. Nama ini diberikan karena beliau berhasil mendamaikan dan menentramkan kekacauan perang saudara, antara keluarga Sultan Banten. Perang ini dikenal dengan nama Perang Pailir pada tahun 1604.   





Prasasti Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun
Prasasti ini ditemukan di tepi aliran Ciaruteun, di Kampung Muara, Ciaruteun Hilir, Cibubulang, Bogor. Penemuan Prasasti ini dilaporkan pada tahun 1863. Pada tahun 1981, Prasasti ini diangkat dan dipindahkan ke tempatnya sekarang di Kampung Muara. Dipahatkan pada sebongkah batu besar dalam empat baris tulisan berhuruf palawa dan berbahasa sansekerta. Isinya menyebutkan tentang sepasang telapak kaki yang seperti telapak kaki Dewa Wisnu, yakni sepasang telapak kaki yang Mulia Raja Purnawarman, raja yang gagah berani. Dibagian atas Prasasti ini masih terdapat sebaris prasasti yang lain, yang belum dapat dibaca dengan jelas, dan gambar sepasang telapak kaki.  





Prasasti Kebon Kopi 1
 
Prasasti Kebon Kopi 1
Prasasti ini terletak di Kampung Muara Hilir, Cibubulang. Ada gambar besar dua telapak gajah yang disamakan dengan telapak gajah Airawata (kendaraan Dewa Wisnu). 
Tulisan sansekerta:
"Jayawisalasya tarume(ndra)sya ha(st)inah (aira)vatabasya vibhatidam padadvayam"
Artinya: Di sini tampak sepasang tapak kaki... yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma (yang) Agung dalam... dan (?) kejayaan.




Prasasti Batu Tulis
Prasasti Batutulis
Prasasti ini ditemukan di Batutulis, Bogor, dan hingga kini masih berada disana. Prasasti ini berangka tahun 1455 Saka (1533 M), berukuran tinggi 161 cm; lebar 152 cm, dipahatkan pada sebuah batu pipih berbentuk gunungan dalam sembilan baris tulisan dengan huruf Jawa kuna dan bahasa Sunda kuna. Pada masa itu Raja Surawisesa berkuasa di Sunda. Beliau pula ynag melakukan perjanjian dengan Portugal di Kalapa.
Transkripsi:
Semoga selamat. Inilah tanda peringatan (untuk) Prebu Ratu yang telah mangkat. Dinobatkan beliau dengan nama Prebu Guru Dewata Prana. Dinobatkan lagi beliau dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Beliaulah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan. Beliau putra Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusalarang. Beliaulah yang membuat monumen (bentuk) bukit, mengeraskan jalan, membuat hutan tutupan, membuat Sanghiyang Talaga Rena Mahawijaya. Beliaulah itu. Pada tahun Saka panca pandawa ngemban bumi (1455)    

Schepenkast
Lemari Buku Besar (Schepenkast)
Lemari sangat besar ini dibuat tahun 1748 untuk Dewan Pengadilan (Raad van Justitie). Karena nilai sejarahnya, pada tahun 1871 Lemari Buku ini diserahkan kepada Bataviaasch Genootschap (Lembaga Kebudayaan Indonesia) didalam gedung  di Medan Merdeka, sekarang Museum Nasional. Sejak tahun 1970-an Lemari Buku ini termasuk koleksi Museum Sejarah Jakarta. Lemari Buku ini ukiran kayunya disepuh emas (prada). Pada bagian atas, sisi sebelah kiri terdapat patung Dewi Keadilan. Pada sisi sebelah kanan adalah patung Dewi Kebenaran.


Room Screen (Penyekat Ruangan)
Room Screen (Penyekat Ruangan)
Penyekat ruangan ini pernah digunakan dalam ruang sidang Dewan Hindia di Benteng (Kasteel) Batavia. Pada bagian atas di bawah mahkota terdapat enam lambang kota yang membentuk VOC. Pada bagian tengahnya terdapat lambang kota Batavia (pedang dengan ujungnya menembus daun salam). Figur pada bagian tengah menggambarkan seorang pria muda memakai baju zirah, kakinya agak pendek. Dia membawa perisai dengan hiasan kepala Medusa.





Sketsel
Sketsel
Ukiran perempuan dibagian tengah Dewi Minerva dari mitologi Romawi (yang sama dengan Dewi Perawan Athena di mitologi Yunani), yang memakai topi baja yang dihias dengan bulu burung dan dikelilingi oleh meriam dan bendera 




Masih banyak sejarah-sejarah lainnya yang dapat kita temukan di Museum Sejarah Jakarta yang pastinya dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan kita. Sekiranya ada waktu senggang, kunjungilah museum ini baik bersama teman atau pun keluarga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar